Tiga buku tiba, masing-masing dengan alasan yang ditujukan kepadamu. Bukan sekadar sinopsis: sebuah diagnosis dan sebuah resep.
KembaliBagikan
Cermin
Bumi Manusia
Pramoedya Ananta Toer · 1980
Minke adalah murid terbaik sekolah Belanda, fasih dalam bahasa dan tata krama dunia yang tak pernah sungguh mengakuinya, dan Pramoedya membiarkannya sadar pelan-pelan, di ruang tamu Nyai Ontosoroh, bahwa tangga yang ia daki bersandar ke dinding orang lain. Kau kenal perasaan itu: setia bertahun-tahun pada peran yang dulu memang layak diperjuangkan. Ada kalimat Nyai yang akan tinggal bersamamu: kita telah melawan, sebisa-bisanya, sehormat-hormatnya.
Jalan
Sang Alkemis
Paulo Coelho · 1988
Santiago menjual domba-dombanya, satu-satunya penghidupan aman yang ia tahu, demi mimpi yang hanya datang dua kali. Kau sudah melakukan bagian tersulit: mengakui bahwa hidup yang lama telah selesai. Yang kau butuhkan sekarang bukan rencana, melainkan bukti bahwa orang bisa berangkat tanpa peta dan tetap sampai. Coelho memberikan bukti itu dengan bahasa yang sederhana seperti dongeng, dan justru karena itu menembus. Bacalah pada minggu kau benar-benar berangkat. Ia akan mengubah takutmu menjadi rasa ingin tahu, dan rasa ingin tahu berjalan lebih jauh daripada keberanian.
Jendela
Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela
Tetsuko Kuroyanagi · 1981
Seorang murid kecil dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak bertanya, lalu menemukan sekolah lain di gerbong kereta tua, dengan kepala sekolah yang mendengarkan ceritanya empat jam penuh tanpa sekali menguap. Kelihatannya buku ini bukan untukmu, dan justru itulah kerjanya: ia mengingatkanmu bahwa hidup berikutnya tidak harus lebih besar dari yang lama, cukup lebih jujur menjadi milikmu. Simpan untuk malam-malam pertama yang lambat setelah kepindahanmu. Kuroyanagi menulis dengan kehangatan yang membuat dunia terasa lebih luas dan lebih ramah daripada yang kau duga minggu ini.